Ahad, 14 Disember 2014

Restu Ibu Imam Syafi'i


Sejak kecil, Imam Syafi'i telah hafal al-Quran dan banyak hadis. Jika mendengar ada guru datang mengajar, dia segera pergi untuk menimba ilmu. Ketika berusia 14 tahun, Imam Syafi'i menginginkan kepada ibunya tentang keinginannya untuk merantau untuk menambah ilmu. Awalnya, ibunya merasa berat untuk melepaskan karena Syafi'i adalah satu-satunya harapan ibunya untuk menjaganya di hari tua. Demi ketaatan dan kasih sayang Syafi'i kepada ibunya, dia membatalkan keinginannya itu. Akhirnya ibunya mengizinkan Syafi'i merantau untuk menambah ilmu pengetahuan. Sebelumnya melepaskan anaknya, maka ibunya berdoa, "Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keredhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut pengetahuan peninggalan PesuruhMu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu, ya Allah agar dipermudah urusannya. Peliharakanlah keselamatannya,­ panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat kepulangannya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang bermanfaat. Amin! " Selesainya berdoa ibunya memeluk Syafi'i kecil dengan penuh kasih sayang dan dengan linangan air mata karena sedih untuk berpisah.





 "Pergilah anakku. Allah bersamamu! Insya-Allah engkau akan menjadi bintang ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah redha melepaskanmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan. " Setelah ibunya berdoakan, Syafi'i mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat tinggal. Dia meninggalkan ibu yang sangat dikasihinya dengan hati yang pilu dan mengharapkan ibu selalu mendoakan kesejahteraannya dalam menuntut ilmu. Karena kehidupannya yang sangat miskin, maka Syafi'i berangkat dengan tidak membawa pasokan uang, kecuali dengan berbekalkan doa ibunya dan cita-cita yang teguh untuk menambah ilmu sambil bertawakkal kepada Allah. Ketika mahal kisah ini, Imam Syafi'i berkata, "Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan kepada ibuku. Dia masih berada pekarangan rumah sambil memperhatikan aku. Lama-kelamaan wajah ibu menjadi samar ditelan kabut pagi. Aku meninggalkan kota Makkah yang penuh barakah tanpa membawa sedikitpun bekalan uang. Apa yang menjadi pasokan untuk diriku hanyalah Iman yang teguh dan hati yang penuh tawakkal kepada Allah serta doa restu ibuku saja. Aku serahkan diriku kepada Allah seru sekalian Alam. "

Khamis, 13 November 2014

masihkah ada pemilik hati saidina salman alfarisi


" Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya."

Hadits Riwayat Iman Al Bukhari.

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim…

Berikut ini adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dari seorang Salman Al Farisi dan dapat menjelaskan apa maksud dari hadist di atas..

Tentang pemahamannya atas hakikat cinta kepada perempuan dan kebesaran hati dalam persahabatan.

Salman Al Farisi sudah waktunya menikah.

Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya.

Tentu saja bukan sebagai pacar, tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini.

Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

" Subhanallaah, Wal hamdulillaah… "

Girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan.

Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

" Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya. "

Fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

" Adalah kehormatan bagi kami menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami. "

Ucap tuan rumah.

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar.

Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

" Maafkan kami atas keterusterangan ini. "

Kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya.

" Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. "
" Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan. "


Keterus-terangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut.

Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya.

Bayangkan sebuah perasaan campur aduk di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati.

Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran.

Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini.

" Allahu Akbar!!! "

Seru Salman.

" Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian. "


Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi.

Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki.

Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan.

Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya.

~ Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. ~

~ Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya. ~

Demikian kisah cinta sahabat Rasulullah yang mulia, Salman Al Farisi.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut. Ketegaran hati Salman patut dijadikan uswah. Ia pun tak kecewa dengan apa yang belum ia miliki meski ia sangat menginginkannya.

Semoga Allah meridhai Salman dan menempatkannya pada surga yang tertinggi.

Semoga bermanfaat, menambah ilmu dan pengetahuan kita serta dapat menjadikannya hikmah dan pembelajaran untuk kita semua .

Isnin, 24 Februari 2014

"Ana Azhary"


Misi Al-Azhar;Dulu,Kini & Hari Esok

1.      Dunia hari ini berkehendak kepada penyelamat.
2.      Keperluan manusia kepada umat  bermisi.
o            - Umat Yahudi tidak berkelayakan dalam misi penyelamat.
                -Umat Nasrani tidak berkaliber dalam misi penyelamat.
      - Umat Islam satu pengharapan dalam misi penyelamat.
3.      Misi  Dunia Arab dan peranannya kepada Umat Islam.
4.      Peranan Mesir dalam misi penyelamat.
5.      Misi Al-Azhar dalam menyelamatkan manusia.
o          - Al-Azhar & Sejarah; Penentang Penjajah,Diktator & Tempoh Kemunduran.
      - Misi Al-Azhar Hari Ini

















       Al-Azhar & DAKWAH
   
     Apa yang menarik perhatian, sesungguhnya Al-Azhar tidaklah selebih dari sekadar institusi ilmu agama, bahkan peranannya adalah untuk mengeluarkan perkumpulan pakar dari ilmu agama, bahasa Arab, fakulti Kemanusiaan, Kemasyarakatan, dan saintis yang memiliki pengetahuan agama.

     Ribuan keluaran Al-Azhar keluar dengan memegang sijil akademik akan tetapi mereka tidak sedar hakikat misi yang dibawanya dan visi yang dipegang oleh mereka. Walaupun akal mereka sedar tetapi hati mereka tidak merasainya, walaupun perasaan  mereka sudah merasainya tetapi mereka tidak menuju untuk mencapai kehendaknya kerana mereka hidup bersama Azhar namun mereka tidak hidup di dalam Azhar dan tidak hidup untuk Azhar !.
     
     Sesungguhnya ulama Al-Azhar merupakan warisan kenabian, pemegang panji-panji risalah, yang mana kerjaya dan pekerjaan mereka adalah semulia-mulia kerjaya yang ada kerana kerjaya mereka merupakan kerjaya para Nabi dan Rasul. ( Surah Fussilat : 33 )
     
     Al-Azhar membawa misi yang besar iaitu untuk membentuk para pendakwah menyeru kepada Allah dan mengeluarkan produk mujahid Islam yang faham Al-Quran & Sunnah, yang kenal riwayat hidup dan sejarah umat, yang bicara dan penanya berperanan di seantero dunia.
   
Al-Azhar Pendokong Visi Pembaharuan dan Halatuju Masyarakat

Al-Azhar bukanlah sekadar institusi ilmu yang mengeluarkan para ulama dan pendakwah kemudian peranannya terhenti disitu sahaja…Sesungguhnya Al-Azhar merupakan Jamiah,Jamie` & Jam`iyah ( Universiti,Masjid & Kesatuan ). Universiti untuk ilmu dan pengetahuan, masjid untuk ibadah dan pendidikan dan kesatuan untuk dakwah dan pembaharuan.

6.      Tanggungjawab & Peranan Al-Azhari.
-  Kewajipan berdakwah & Bimbingan
-   Kewajipan Penerangan dengan ilmu dan rohani.
-   Kewajipan memberikan Halatuju yang khusus.
-   Kewajipan menyediakan panduan As-Sohwah ( Kebangkitan )
7.      Al-Azhar & Dunia Islam.
8.      Al-Azhar & Pembimbing Dunia.

Faktor Kejayaan & Komponen dalam Misi Al-Azhar

1.                                           Faktor Kejayaan dalam Misi Al-Azhar

# Penyediaan Masyarakat ke arah agama dan penerimaan pemikiran Islam.
Contohnya masyarakat Mesir sendiri. Kita mendapati mereka merupakan masyarakat mukmin yang beragama dengan fitrah dan sejarahnya. Sewaktu pembinaan pyramid di zaman firaun, mereka membina atas nama agama. Kemenangan mengalahkan tentera Salib Eropah di bawah pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi adalah di atas panji-panji Islam. Kemenangan mengalahkan tentera Tartar jelas diceritakan dalam novel karangan Ali Ahmad Baksir bertajuk “Wa Islama Hu”. Kebangkitan tentera Perancis pada tahun 1919 yang menghujum para ulama mencetuskan gelombang revolusi daripada Al-Azhar  yang membawa ruh Ad-Din. Tiada yang tega mempetahankan negara Palestin melainkan dari ahli Ad-Din.
Seorang sejarawan Kuno Yunani ‘Herodus’ mengatakan : “Bangsa Mesir merupakan satu kaum yang beragama”.
Justeru apabila dibicarakan kekuatan iman masyarakat Mesir dan kesucian fitrahnya, semuanya berkait rapat dengan kewujudan Al-Azhar disitu. Mereka lahir dan hidup dibawah tarbiah Al-Azhar.
Sesungguhnya bangsa Arab lain selain Mesir juga tiada bezanya dengan Mesir seperti masyarakat Turki, Algeria dan selainnya yang dahulunya pernah dikucar-kacirkan oleh tangan-tangan kezaliman.
Oleh itu, andai ingin melahirkan kembali umat yang ajaib ini, melahirkan semula Khalid&Salahuddin Al-Ayyubi maka berbicaralah atas kalimah Allah, memimpin dengan teraju Iman, bersatu di bawah panji-panji al-Quran & kalimah tauhid, meneladani guru pertama iaitu Muhammad s.a.w , mengikatnya dengan Islam, warisan Islam dan beriman dengan Islam.


#Keunggulan Misi yang diseru oleh Al-Azhar ; Misi Islam
Tiada akal yang akan menafikan dan tiada halangan yang akan membatasi pembangunan dan pemodenan  kerana sesungguhnya Risalah Islam datang memerangi paganisme(penyembahan patung) dengan tauhid, liberalism dengan keunggulan dan kemuliaan, kejahilan dengan ilmu, kejumudan dengan keterbukaan, kemunduran dengan kemajuan, kezaliman dengan keadilan, kekacauan dengan sistematik, ta`sub dengan tolak-ansur, dictator/autocrat dengan syura,  hireraki dengan persaudaraan dan persamaan, perkauman dengan seruan seluruh alam, kerakusan  dengan ransangan dan semangat pada jiwa.
Matlamat ini dibantu dengan fitrah kemanusiaan itu sendiri. Islam tidak datang untuk menentang atau mengubah bahkan ia hadir untuk melurus dan meninggikan manusia itu sendiri. (Surah Ar-Rum : 3)

Keperluan Zaman Kini
Dikatakan oleh Henry Brangyah dalam majalah siri ke 24 dari majalah Perancis : “Sesungguhnya masalah agama merupakan isu paling utama yang dibisingkan oleh dunia agamawan hari ini kerana tamadun generasi akan datang akan terhenti dengan hilangnya agama.”
Ini jelas bahawa Islam kini berada di paras kesedaran, umat Islam lahir semula, pemuda Islam dalam kebangkitan merentasi dari benua ke benua, mereka dan kita bakal memenuhi harapan bahkan dengan sepenuh yakinnya mengatakan : Islam tidak dapat tidak bakal mengetuai dunia, dan kerajaan Islam bakal kembali. Justeru itu kita memerlukan gelombang pendakwah, fuqahak yang berlandaskan Islam, maka siapa lagi yang mampu membentangkan mereka melainkan Al-Azhar?  

   2.Komponen Kejayaan Al-Azhar
   -Institusi Kesedaran kepada Islam & Zaman.
   -Teladan yang Baik
   -Akhlak Ulama : Keberanian, Zuhud, Ikhlas,Kekuatan
   -Dakwah & Gerakan dalam masyarakat

   3.Andai Hilangnya Al-Azhar
   -Wujud pemikiran Materialistik
   - Pemikiran Khurafat
   -Wujud Pelampau Agama









Al-Azhar…Kritikan Peribadi
1.      Pemilihan  Pelajar
2.      Pemilihan Tenaga pengajar
3.      Kepentingan Universiti
4.      Manhaj Rujukan
- Ilmu Tauhid
- Ilmu Fiqh
- Isu Lama & Baru
5.      Majmak Buhus Islamiyyah ( Akademik Penyelidikan Islam )
6.      Tuntutan kepada Al-Azhar dan Tuntutan Al-Azhar


KITAB ASSHEIKH ADDUKTUR YUSUFF ALQARDHAWY HAFIDZAHULLAH

moga Allah memberikan kita kebaikan...


Para sahabat dengan kerja kuat mereka, dengan pengorbanan mereka, telah berjaya mengembangkan Islam ke pelusuk dunia. Kejayaan itu adalah kejayaan yang besar. Usaha yang mereka jana juga usaha yang besar.

Tetapi mereka tidak mendabik dada, saat mereka berjaya itulah mereka tunduk berdoa kepada Allah supaya diterima amal mereka. mereka risau pengorbanan mereka tidak diterima Allah, mereka risau redha Allah tidak bersama mereka walaupun secara zahirnya mereka sudah berjaya mengembangkan Islam ke pelusuk dunia.

Mereka benar - benar ikhlas dan jelas matlamatnya.
Yang mereka buru bukan sanjungan manusia, tetapi redha Allah..

Kita bagaimana?

bumi kita sama